"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu" (QS Muhammad/47 : 7)

20 Juni 2013

Renungan Medio Tahun


Ah, tak terasa sudah menginjak pertengahan tahun.

Semoga kita masih mengingat
sekian umur kita habiskan, adakah berfaedah?

Semoga kita masih mengingat
amanah yang diperjuangkan, masihkah terfikirkah?

Semoga kita masih mengingat
kuatnya ikatan itu, bisakah dirasakah?

Nyariskah terlupakan?
Semoga tidak.

26 April 2013

Etika Bertetangga Dalam Islam


 
Islam merupakan agama yang sempurna. Salah satu bukti kesempurnaan Islam adalah Islam telah mengatur segala aspek kehidupan kita, baik cara kita berhubungan dengan Allah maupun sesama. Sebagai seorang muslim kita diperintahkan melakukan kontak dengan Allah melalui berbagai ibadah yang kita lakukan seperti sholat, puasa, dll. Selain Islam juga mengajarkan kita bagaimana cara bersosialisasi dengan manusia, termasuk tetangga kita. Lalu bagaimana cara bertetangga yang Islami itu??

14 Maret 2013

Tafakur Alam 2013 CINTA

 Assalamualaikum Warrahmatullah Wabarakatuh!
Tanggal 22-24 Februari 2013 kemarin, ROHIS28 baru saja mengadakan salah satu acara tahunan, yaitu Tafakur Alam. Tahun ini, tema dari Tafakur Alam yang kami adakan adalah "CINTA". Kok cinta? Nah kata cinta disini bukan "cinta" secara harfiah, CINTA disini merupakan singkatan dari Create Islamic Spirit and Relationship Through Tafakur Alam. Pada pengen tau nggak kayak apa TA kemarin, liat aja foto foto di bawah









Semoga TA bertema CINTA ini bisa memberikan manfaat yang positif, dan semoga di tahun yang akan datang lebih berkembang dan lebih baik lagi. Sampai bertemu di TA selanjutnya, takbir, ALLAHU AKBAR!!

16 Februari 2013

Jalal dan Jamal

Jalal dan Jamal. Hmm.... Kayaknya pernah denger ya? Tapi dimana ya?
Kalau kita perhatikan lagi buku agama sd atau smp kita, dimana kita belajar 20 Sifat Allah, kita akan menemukan sifat Jalal dan Jamal yang merupakan gabungan atau penggolongan dari pada sifat-sifat Allah itu.

Secara singkat, dapat kita katakan bahwa Allah memiliki dualitas sifat dalam satu kesatuan, yakni Jalal dan Jamal. Maksud dari dualitas dalam satu kesatuan adalah bahwa kedua sifat ini tidak pernah terpisah, selalu ada Jalal dalam Jamal, dan Jamal dalam Jalal. Hanya saja bagaimana kita "menyadari" dan "menyingkapi" keadaan lah yang membuat seolah Allah hanya tampil dari salah satu sifatnya itu,

Sebelum beranjak lebih lanjut, mungkin lebih baik jika kita mengingat-ingat lagi apa itu sifat Jalal dan apa itu sifat Jamal. Jalal adalah sifat Ke-Maha Perkasa-an Allah S.W.T, yang dimana dari sifat Jalal ini dapat dicabang lagi menjadi banyak nama seperti Maha Kuasa, Maha Perkasa, Maha Berkehendak, Maha Besar, dll. Sedangkan Jamal, adalah sifat Keindahan dari Allah S.W.T, yang dimana dari sifat ini dapat dicabang lagi menjadi banyak nama seperti Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun, Maha Pemelihara, dll.

Bagaimana menyingkapi sifat Allah juga akan berpengaruh pada bagaimana kita memahami hubungan Allah pada kita. Dari sudut pandang Jalaliah, hubungan kita, manusia, dengan Allah adalah transcendent, atau dalam bahasa arabnya adalah tanzih. Tanzih atau transcendent adalah dimana jarak kita dengan Allah sangat lah jauh, dimana Allah adalah Tuhan Yang Maha Besar, dan kita adalah hamba yang sangat lemah dan tak memiliki segala daya dan kekuatan. Dari sinilah muncul rasa takut kita pada Allah atau yang disebut Makhoffah. Dari sudut pandang Jamaliyah, hubungan kita dengan Allah adalah immanent, atau dalam bahasa arab disebut tasbih. Tasbih atau immanent adalah dimana jarak kita dengan Allah terasa sangat lah dekat, yang dimana disebut bahwa Allah lebih dekat dibanding nadi kita sendiri. Allah bagi kita layaknya kekasih, atau mungkin teman dimana kita selalu dapat bersandar, memohon, dan meminta pertolongan. Dari sinilah muncul rasa cinta kita kepada Allah atau yang disebut Mahabbah.

Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, Jalal dan Jamal adalah dualitas dalam kesatuan. Kita tidak boleh "melupakan" salah satu aspek dari dualitas sifat Allah ini. Adalah suatu kesalahan besar jika kita melupakan salah satunya, dan hanya melihat sifat Allah ini dari satu sisi. Seperti misal seseorang hanya melihat sifat Jalal Allah dan lupa akan sifat jamalnya. Maka, dalam penerapan agama Islam dalam kehidupan sehari-harinya, ia hanya akan merasa takut dan tidak merasakan cinta. Semua ia lakukan berdasarkan rasa takut kepada Allah. Bahkan ketika ia memohon dan meminta, yang ia rasakan bukan lah limpahan kasih sayang Allah namun ia meminta layaknya seorang budak dengan majikannya. Ketika ia berdzikir ia seperti sedang memuji-muji atasannya, tidak merasa bahwa ketika ia sedang berdzikir sebenarnya ia tengah berbagi kasih pada Allah, dan Allah sedang melimpahkan seluruh cinta dan rasa damai pada kita. Kejadian yang seperti ini sering lah terjadi, dan dampaknya bukan hanya individu tersebut dengan Allah, namun juga pada orang disekelilingnya. Ia akan menjadi orang yang kaku dalam menerapkan agama, karena yang ia rasakan hanyalah rasa takut pada Allah, dan lupa akan aspek cinta dalam agama. Ia hanya ingat bahwa Allah itu Mahamerajai, Mahaberkehendak dan Mahaberat siksa-Nya, dan tak ingat dengan Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun, Mahaluas maafnya.

Sedangkan di sisi lain, bagaimana jika kita hanya melihat Allah dari sisi Jamal nya? Kita menjadi lupa akan rasa takut kita kepada Allah, dan yang kita ingat hanya lah bahwa Allah itu Maha Pengampun dan Mahaluas maafnya, dan kita menjadi longgar dalam melakukan ibadah kita, dan lama-kelamaan secara tidak disadari syaitan akan mulai masuk mempengaruhi dan mengarahkan kita pada perbuatan maksiat. Namun sepertinya kasus ini sangat lah jarang terjadi, karena biasanya orang yang longgar ibadah sejak awal bahkan "lupa" pada  kedua sifat Allah ini, bahkan lupa akan "kehadiran Allah" dalam hidupnya.

Sebagai penutup, saya ingin mengingatkan kembali mengenai sifat Allah agar kita semua tidak menjadi bingung dengan ini. Adalah Dzat Allah dengan sifat Absolut (tak terbatas) dan Radiant (memancar). Karena Ia absolut, maka ia melingkupi semua nama dan sifat, dan karena Ia memancar maka nama-nama Nya dapat termanifestasi dalam alam dunia ini (Dengan adanya yang Maha Menghidupkan, di dunia ini dapat lahir makhluk baru, dengan adanya nama Maha Pemelihara, terpeliharalah semua makhluk di alam dunia ini). Absolut yang berarti tak terbatas dan melingkupi semua nama, harus digolong-golong kan untuk dapat dipahami manusia. Maka pertama Sifat-Nya digolongkan menjadi 2 kelompok besar, yaitu Jalal dan Jamal. Lalu dari 2 penggolongan ini didapat lagi 20 Sifat  Allah, dan selanjutnya lagi ada yang menggolongkannya 99 nama atau pun 1000 nama Allah. Penggolongan nama Allah ini bukan lah suatu perkara besar, karena pada dasarnya Allah bersifat Absolut atau Tak Terbatas

Pada akhirnya, semoga artikel ini dapat bermanfaat sebagai pembuka wawasan sekaligus renungan kita, bagaimana kita menyingkapi Allah dengan dualitas sifat-Nya ini. Dan dimana kita juga harus ingat, Selalu ada Jalal dalam Jamal, dan Jamal dalam Jalal. Wallahu 'Alam

Walhamdulillahi Robbil Alamin



Admin #5
Div. Umat, Dept. Syiar
Rohis SMAN 28 Jakarta

04 Januari 2013

Rukun Islam, Rukun Iman, dan Ihsan

Rukun Islam, Rukun Iman, dan Ihsan. Ketiga ini merupakan dasar dan intisari pokok dari agama Islam, yang menjadi panduan dasar bagi setiap muslim untuk dapat memegang teguh Islam dengan benar. Ketiga pilar dasar Islam ini berasal dari hadits Rasulullah S.A.W yang disebut hadits Jibril:

Diriwayatkan dari Umar bin Khatab:
Suatu ketika, para sahabat duduk didekat Rasulullah S.A.W.
Tiba-tiba muncul  kepada kami seorang lelaki dari arah gurun mengenakan pakaian sangat putih rambutnya sangat hitam. Penampilannya sangat bersih, tak ada tanda-tanda perjalanan, tidak selayaknya orang yang baru datang dari gurun. Tak ada seorang pun diantara kami mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tanganya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata:
   "Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam."
Rasulullah S.A.W menjawab:
   "Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah, dan   sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; mendirikan sholat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan; dan engkau menunaikan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya."
Lelaki itu berkata: "Engkau benar." maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.
Kemudian ia bertanya lagi:
  "Beritahukan kepadaku tentang Iman"
Nabi S,A,W menjawab:
  "Iman adalah, engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari Akhir, dan berimana kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk."
Ia berkata:
  "Engkau benar. Beritahukan kepadaku tentang Ihsan".
 Nabi S.A.W menjawab:
  "Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau meliat-Nya. Kalau pun engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu."
 ....
{HR.Muslim no.8} 
Tentu kebanyakan dari kita telah mendengar mengenai hadits Jibril ini, dan sebenarnya hadits ini masih berlanjut sampai penjelasan tanda-tanda kiamat, namun pokok bahasan kita kali ini hanya lah mengenai Rukun Islam, Iman, dan Ihsan.

Dari hadits ini, kita dapati lah istilah yang kita sebut sebagai Rukun Islam, dan Rukun Iman. Namun, jika kita cermati, dikemanakan kah Ihsan? Yang kita kenal hanya lah Rukun Islam dan Rukun Iman, namun tidak pernah kita mendengar adanya istilah Rukun Ihsan. Mengapa? Apakah Ihsan tidak begitu penting? Apakah Ihsan merupakan sesuatu yang tidak perlu dinyatakan sebagai bagian dari Rukun-Rukun yang merupakan dasar-dasar pilar Agama Islam?

Islam, Iman, dan Ihsan adalah suatu kesatuan. Ketiganya merupakan tahapan-tahapan, atau juga bisa dibilang, tingkatan-tingkatan kedudukan seorang manusia dalam Agama Islam ini. Pertama-tama, Rukun Islam mengajarkan kita untuk bersyahadat, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa, dan menunaikan ibadah haji bila mampu. Secara umum, Rukun Islam mengajarkan kita ritual-ritual ibadah wajib yang diajarkan dalam Islam. Ibadah-ibadah yang kita lakukan ini, berhubungan dengan kegiatan fisik kita. Ibadah-ibadah ini juga mudah dipelajari dan diterapkan, semua orang bisa melakukannya tanpa perlu pembelajaran lebih lanjut mengenai Islam. Banyak juga muslimin melakukan ibadah ini sebagai sekedar ritual fisik semata, tanpa kesadaran bahwa kita sedang melakukan persembahan kepada Allah S.W.T

Selanjutnya, tahap kedua adalah Rukun Iman. Dalam Rukun Iman, kita diwajibkan untuk mengimani Allah S.W.T, para Malaikat, Kitab-kitabnya, Rasul-Rasul Allah, hari Akhir, dan Qada dan Qadar. Dari sini, untuk mengamalkan Rukun Iman ini, kita perlu pengetahuan kognitif mengenai Islam, serta kepercayaan terhadap Islam. Pengetahuan Kognitif mengenai Islam ini setidak-tidaknya kita mengetahui Allah dengan sifat-sifat-Nya, jumlah dan nama-nama malaikat, kitab-kitab, dan rasul-rasul, apa itu hari akhir serta tanda-tandanya, serta percaya terhadap apa pun takdir-Nya. Secara dasar, pengetahuan ini bisa kita dapatkan dari sekolah atau pun tpa dekat rumah. Dan secara lanjut, kita dapat banyak membaca buku, menghadiri majlis-majlis kajian Islam,  serta belajar lebih lanjut di pesantren atau pun mengambil mata kuliah ajaran Islam. Dalam Rukun Iman, tanpa pengetahuan kognitif sama sekali mengenai Islam, Rukun Iman ini tidak mungkin dapat diamalkan. Tidak seperti Rukun Islam, ketika kita sudah tahu Rukun-rukun ibadahnya, syarat wajib dan hal yang membatalkan ibadah kita, kita tetap dapat melaksanakan Rukun Islam dengan baik. Namun juga, pengetahuan mengenai Islam ini tak ada artinya tanpa keperayaan kita terhadap Islam. Dalam tahap ini, muslimin harus percaya kepada hal yang gaib yang ada dalam Agama Islam. Bagi kita yang terlahir dengan agama Islam, sama sekali bukan masalah untuk mengimani ini. Tapi, bagi orang yang awalnya beragama animisme, majusi, atau agama ardhi lainnya, ia harus merelakan dirinya untuk percaya kepada semua yang ada dalam Rukun Iman ini. Ini belum tentu mudah bagi mereka, karena itu kita harus bersyukur dilahirkan dalam agama Islam.

Yang terakhir, adalah Ihsan. Secara teori seperti yang disebutkan di hadits di atas adalah "Beribadah kepada Allah seakan-akan engkau meliat-Nya. Kalau pun engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu." Namun, seperti apa kita harus memahaminya? Apakah Ihsan hanya berlaku dalam Sholat? Jika kita kontemplasikan dan renungkan lagi kalimat di atas, kita juga seharusnya teringat bawa dalam Islam, semua hal yang kita lakukan dengan niat untuk Allah adalah ibadah. Mulai dari bangun tidur, mandi, makan, belajar, bekerja, dan semua hal yang kita niatkan untuk Allah S.W.T adalah Ibadah kepada-Nya. Berarti, kita harus selalu "Merasa melihat Allah" saat kita bangun tidur, mandi, makan, belajar, dan semua kegiatan lain. Seara sederhana, kita dapat simpulkan bahwa Ihsan adalah "Melibatkan Allah dalam Kehidupan Kita".

Mari kita evaluasi lagi diri kita. Seberapa jauh kita melibatkan Allah dalam kehidupan kita? Seberapa sering kita ingat Allah saat kita beraktifitas? Apakah kita hanya ingat Allah saat kita butuh dalam doa kita? Dan seberapa sering kita merasa membutuhkan Allah dalam hidup kita? Selama ini, kita sibuk memikirkan diri kita sendiri tanpa menyadari bahwa sesungguhnya Allah selalu mengawasi kita, bersama kita, dan menunggu kita untuk ingat kepada-Nya. Kita semua sering sekali mengaku bahwa kita sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya, namun, bagi kita seperti apa kita rasakan hubungan Allah dengan kita? Apakah layaknya bos yang senang dijunjung, suka mengatur dan menghukum?  Ataukah seperti teman kerja yang kita sekedar mengetahui nama dan tugasnya, namun tidak pernah atau jarang berhubungan dengannya? Atau seperti teman dekat kita yang suka kita mintai bantuan ketika kita dalam kesulitan? Atau seperti sahabat yang suka kita ajak curhat? Atau layaknya kekasih yang saling mencintai?

Jika kita sering memperhatikan karya-karya sastra para sastrawan besar Islam, seperti Jalaluddin Rumi, atau Fariduddin Attar, atau banyak sastrawan lainnya, sering melukiskan cintanya pada Allah S.W.T layaknya cintanya pada kekasihnya yang sangat dicintainya, kekasih yang sangat ia rindukan, dan kekasih yang selalu bersamanya. Mereka mencintai Allah layaknya tak ada lagi sesuatu di dunia ini yang menarik perhatiannya selain Allah S.W.T. Ini sekedar contoh, namun jika memang kita mampu seperti mereka mengapa tidak? Kita dapat mencoba dari sekarang untuk melibatkan Allah S.W.T dalam kehidupan kita. Dapat kita mulai dengan sering mencoba untuk mengingat-Nya, dalam segala aktifitas kita.

Dengan kita melibatkan Allah S.W.T dalam segala aktifitas kita dalam kehidupan kita, Insya Allah hidup kita akan terasa lebih tenang dan damai. Masalah-masalah serta cobaan-cobaan yang kita derita Insya Allah tak kan lagi terasa berat bila kita selalu ingat bahwa Allah selalu bersama kita. Semoga renungan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Wallahu A'lam.


Walhamdulilllahi Robbil Alamin



Admin #5
Div. Umat, Dept. Syiar
Rohis SMAN 28 Jakarta

Search